Minggu 7 Juni 2026 - 20:11
Ulama Sunni Mesir: Mendukung Iran Menghadapi Agresi adalah Kewajiban Syar’i

Hawzah/ Syekh Salamah Abdul Qawi, ulama Sunni Mesir dan mantan pejabat Kementerian Wakaf Mesir, dengan menegaskan bahwa Iran adalah sebuah negara Muslim, menyatakan bahwa mendukung Iran dalam menghadapi serangan Amerika dan Israel merupakan “kewajiban syar’i dan Islami”. Ia mengatakan bahwa kaum Muslim harus berdiri di pihak yang menjadi korban agresi, bukan di pihak pelaku agresi.

Berita Hawzah – Dikutip dari Islami Analiz, di tengah berlanjutnya ketegangan geopolitik di kawasan, seorang ulama terkemuka Sunni Mesir dalam pernyataan penting mengenai konflik yang sedang berlangsung antara negara-negara Arab Teluk dan Iran, menggambarkan dukungan terhadap Iran sebagai sebuah “keharusan syar’i dan Islami”.

Menurut Pusat Berita “Islami Analiz”, Syekh Salamah Abdul Qawi, ulama Sunni Mesir yang pada masa kepresidenan Mohamed Morsi (2012–2013) menjabat sebagai juru bicara resmi dan penasihat Kementerian Wakaf Mesir, dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui kanal pribadinya di YouTube, menegaskan bahwa mendukung Iran dalam menghadapi tekanan dan serangan Amerika serta Israel bukanlah keberpihakan politik, melainkan kewajiban agama dan syariat.

Perang bukan antara negara-negara Teluk dan Iran

Menjawab pertanyaan, “Mengapa Anda memihak Iran di hadapan saudara-saudara Anda di negara-negara Teluk?”, Abdul Qawi mengatakan bahwa pertanyaan tersebut pada dasarnya keliru, karena konflik saat ini bukanlah antara Iran dan negara-negara Teluk.

Ia menyatakan: “Suka atau tidak suka, apakah kita mencintai Iran atau tidak, pada akhirnya Iran adalah sebuah negara Muslim. Negara ini menjadi sasaran serangan negara-negara non-Muslim seperti Amerika, serta Netanyahu dan sekutu-sekutunya. Jika kita melihat persoalan ini dari perspektif syariat dan akidah Islam, seorang Muslim tidak pernah berdiri melawan Muslim lainnya.”

Jika Amerika menyerang Arab Saudi atau UEA, kami juga akan berdiri di pihak mereka

Ulama Mesir tersebut menegaskan bahwa ia tidak memiliki permusuhan terhadap negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dan menyatakan bahwa sikapnya didasarkan pada prinsip-prinsip agama yang tetap, bukan pada kecenderungan politik atau perbedaan sementara.

Ia menambahkan bahwa jika Amerika menyerang Arab Saudi atau Uni Emirat Arab, tanpa ragu ia juga akan berdiri di pihak negara-negara tersebut; karena dalam fikih Islam, pihak yang menjadi korban agresi memiliki hak untuk melakukan pembelaan diri yang sah.

Selanjutnya ia menekankan beberapa poin kunci:

  • Pembelaan diri yang sah: Ia menilai kemungkinan serangan Iran terhadap kepentingan Amerika dalam kerangka pembelaan diri yang sah, dan mengatakan bahwa hak tersebut diakui baik dalam fikih Islam maupun dalam hukum internasional.
  • Palestina dan Gaza: Ia mengkritik pemerintah-pemerintah Arab karena meninggalkan rakyat Palestina dan Gaza, serta menyatakan bahwa Iran, karena dukungannya terhadap poros perlawanan dan rakyat Palestina, setidaknya layak mendapatkan apresiasi.
  • Perkembangan pemikiran di negara-negara Teluk: Abdul Qawi menyambut meningkatnya pandangan di Arab Saudi dan Qatar yang menolak keterlibatan dalam perang dengan Iran, dan menyebut pendekatan tersebut sebagai tanda rasionalitas politik.

Ia juga memuji sejumlah pemikir Arab yang berpendapat bahwa hubungan dengan Iran tidak seharusnya dikorbankan demi Israel.

Ulama Sunni Mesir tersebut pada akhir pernyataannya menegaskan: “Amerika adalah agresor yang zalim, dan kami selalu berdiri di pihak yang menjadi korban agresi, bukan di pihak pelaku agresi. Di mana pun kebenaran berada, di situlah saya akan berdiri.”

Ia menegaskan bahwa perbedaan mazhab dan politik tidak boleh membayangi sikap moral dan syar’i dalam menghadapi krisis-krisis regional.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha